Minggu, 07 Juni 2015

Renungan Senin, 08 Juni 2015

Peringatan
St. Nikolaus Gesturi,Maria Droste-Fischering
oleh: Romo Noegroho Agoeng Sri Widodo pr.

Suatu kali ada orang dengan suara keras memaki-maki. Namun orang yang dimaki-maki diam saja. Ia mendengarkan seluruh makian itu. Mungkin juga hatinya panas, tetapi wajahnya tetap tenang. Setelah yang mencaci maki diam, ia tersenyum dan bersuara dengan tenang dan lembut. Kata-kata tenang dan lembutnya ternyata meredakan amarah. Orang itu lalu makin terbawa tenang dan kemudian bisa bercakap-cakap dengan baik.

Kisah itu mematriku pada sabda Yesus ini, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Mat 5:5). Mereka yang lemah lembut mampu menghentikan gejolak amarah dan mereka memiliki bumi.

Marilah kita jaga hati kita agar tetap lemah lembut. Kita sikapi gejolak yang meledak-ledak dengan kelemah lembutan hati yang menyejukkan. Bumi pun akan menjadi milik kita. www.sesawi.net

Sabtu, 06 Juni 2015

Renungan

Renungan, Sabtu 6 Juni 2015: Diperhitungkan Tuhan
Jumat, 5 Juni 2015 12:00 WIB
Tuhan-Yesus-Jalan-Kebenaran.jpg
HIDUPKATOLIK.com - Pekan Biasa IX; Tob 12:1.5-15.20; Tob 13:2.6.7; Mrk 12:38-44
Di bagian penghujung kitab Tobit terbukalah semuanya. Malaikat Rafael akhirnya menyingkapkan identitasnya. Dia adalah satu dari tujuh malaikat yang melayani Tuhan yang diutus untuk menyembuhkan kebutaan Tobit dan mengusir setan dari tubuh Sara. Tentu bukan kebetulan kalau nama Rafael berarti “Allah menyembuhkan”.
Kebiasaan Tobit yang istimewa yaitu menguburkan orang dan memberi sedekah kepada orang miskin, ternyata diperhitungkan oleh Allah. Tobit memang tidak mendapatkan imbalan atau ganjaran dari orang yang sudah meninggal; tetapi ia mendapatkan upahnya dari Surga. Tampaknya tidak ada satu perbuatan baik pun yang terlewatkan dari perhitungan Tuhan. Teologi klasik yang disebut juga dengan Hukum Retribusi, ternyata tetap berjalan, meskipun melalui jalur yang panjang dan berkelok-kelok. Orang baik akan mendapatkan berkat; orang jahat akan memperoleh laknat.
Kita memang tidak pernah tahu apa yang dipikirkan Allah untuk masing-masing kita. Tetapi ketidaktahuan kita ini justru membuat hidup kita penuh dengan kejutan-kejutan.
V. Indra Sanjaya